Sabtu, 22 September 2012

HIV

Senin, 19 September 2011 Gambaran Pengetahuan dan Sikap Remaja Tentang HIV/AIDS BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dunia telah berkali-kali diguncang wabah penyakit yang merenggut jutaan nyawa manusia. Namun kecemasan, ketakutan dan dampak sosial, politis, ekonomi dari wabah tersebut tidak seperti yang ditimbulkan oleh wabah virus HIV (Human Immunodeficiency Virus)/AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). AIDS diartikan sebagai menurunnya daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit karena adanya infeksi virus HIV. Seseorang yang terinfeksi HIV dengan mudah dapat terserang berbagai penyakit lain karena rendanya daya tahan tubuh, dan dapat mengakibatkan kematian (Karim, 2005). Epidemi HIV/AIDS di Indonesia pada saat ini sedang berada di persimpangan jalan. Pada akhir tahun 1990-an, tingkat penyebaran HIV/AIDS masih rendah, bahkan di kalangan kelompok yang tergolong rentan terhadap penyakit ini. Tetapi di dalam sepuluh tahun terakhir, HIV/AIDS telah menyebar di berbagai kelompok masyarakat dan propinsi yang disebabkan oleh berbagai perilaku masyarakat yang kurang baik khususnyap perilaku seksual. Pada saat ini Indonesia mengenali HIV/AIDS sebagai ancaman pembangunan yang besar dan telah memobilisasi berbagai sumberdaya dari tingkat nasional maupun nasional untuk menangani masalah HIV/AIDS (Johanna, 2007). Selain itu dengan adanya isu PMTCT (Prevention Mother to Child Transmition) atau kemungkinan penyebaran dari ibu kepada bayi yang mudah terjadi setelah anak menyusui dari ibu yang menderita HIV/AIDS. Di beberapa tempat di Indonesia, salah satunya adalah Balai Karimun yang ada di Batam merupakan tempat pencegahan penularan HIV/AIDS dari ibu ke bayi, dimana pelaksanaannya anak boleh disusui oleh ibu hanya 1 minggu, setelah kemudian bayi dibiayai oleh pemerintah atau negara untuk diberi susu formulanya. Menurut Bakti (2004) Provinsi DKI Jakarta dan Papua masih menempati urutan pertama kasus penderita AIDS di Indonesia. Laporan Menkes Siti Fadilah Supari sendiri menyebutkan, Provinsi Jabar menempati urutan kedua dalam kasus AIDS pada pengguna Napza suntik sampai Maret 2007. Jumlah kasus AIDS di Jabar mencapai 1.105, sedangkan DKI Jakarta mencapai 2.621 kasus. Untuk estimasi HIV di Jabar tahun 2006 diperkirakan 14,341 orang. Dua provinsi tertinggi estimasi HIV/AIDS yaitu DKI Jakarta 26.805 orang, dan Papua 21.487 orang. Menurut data Depkes 2006, sebanyak 46% orang dengan HIV dan AIDS pengguna Napza suntik, 37% tertular melalui hubungan seksual berisiko, 14% terjadi di Papua, dan 3% berasal dari penghuni lembaga pemasyarakatan atau rutan. Menurut Johanna (2007) penyebaran HIV/AIDS di Indonesia pada tahun 2006 cenderung disebabkan oleh obat pengguna obat terlarang (jarum suntik), perempuan PSK (pekerja seks komersial), waria, dan narapidana. Namun dari keseluruhan penyebaran tersebut penyebaran HIV/AIDS lebih didominasi oleh pengguna obat terlarang yang berjumlah 48% untuk wilayah Jakarta. Secara nasional jumlah penderita AIDS pada tahun 2007 sebanyak 10,384 orang dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 8.288 orang (79,82%), wanita sebanyak 2.035 orang (19,60%) dan tidak diketahui 61 orang (0,59%). Sedangkan dilihat dari usia terbanyak yang menderita HIV/AIDS adalah usia 20-29 tahun dengan jumlah 7972 orang, sedangkan usia penderita yang paling sedikit adalah >60 tahun dengan sebanyak 17 orang. Sedangkan pada tahun 2007 Propinsi Lampung menempati urutan ke 13 dengan jumlah penderita sebanyak 185 orang. Dengan rincian 102 orang (55,13%) dengan AIDS dan sisanya 83 (44,87%) AIDS. Sementara jumlah penderita HIV/AIDS yang meninggal dunia sebanyak 32 orang (17,30%), namun sesungguhnya jumlah yang sebenarnya sulit dideteksi, karena penyebarannya digambarkan seperti fenomena gunung es. Selama ini yang terdeteksi hanya puncak gunung es, tetapi bagian bawah gunung es tidak dapat terlihat. Menurut WHO setiap ada 1 kasus HIV/AIDS maka ada 100 yang tidak terdeteksi. Berdasarkan Laporan Kasus AIDS Kabupaten/Kota sampai dengan Agustus 2008 ditemukan sebanyak 244 kasus, dimana Bandar Lampung menempati urutan pertama terbanyak dengan jumlah penderita 172 orang, Lampung Utara 18 orang, Lampung Tengah 13 orang, Lampung Timur dan Lampung Selatan masing-masing 8 orang, Tanggamus 7 orang, Tulang Bawang 6 orang, Metro 5 orang, Lampung Barat 4 orang, Way Kanan 2 orang dan Pesawaran 1 orang (SSG Lampung, 2008). Fenomena lain yang tampak adalah masih ditemukan 7 orang remaja khususnya siswa SMA/SMK atau sederajat yang mencoba berbagai narkotika seperti ganja dan dan minuman keras terbukti dari adanya laporan dari aparat desa/pamong mengenai kenakalan remaja yang sering dilakukan. Dari jumlah tersebut 2 orang diantaranya (28,57%) dikeluarkan sekolah sedangkan sisanya 5 orang (71,42%) diberi peringatan untuk tidak mengulanginya lagi. Melihat fenomena-fenomena yang ada dapat disimpulkan bahwa makin meningkatnya penularan penyakit HIV/AIDS disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penularan HIV/AIDS termasuk pada remaja. Remaja merupakan generasi penerus bangsa, mereka adalah penentu nasib bangsa di masa mendatang. Jika remaja berkualitas rendah, maka akan berakibat pada kehancuran bangsa. Bila saat ini banyak remaja yang rusak dan tidak berkualitas karena HIV/AIDS, maka akan berdampak pada masa yang akan datang. Bangsa ini akan menjadi rusak. Kita sebagai orangtua, pendidik, dan para remaja, hendaknya menjaga keadaan tersebut. Seperti diketahui bahwa beberapa indikator atau penyebab terjadinya penularan HIV/AIDS di berbagai wilayah perkotaan dan perdesaan khususnya adalah masih sering ditemui tayangan melalui media cetak dan elektronik yang bersifat pornografi, sehingga memungkinkan remaja untuk mencobanya. Dari hasil survei awal yang penulis lakukan di ZZZ pada bulan Juni 2008 diketahui bahwa dari 10 orang siswa yang ada 6 siswa diantaranya belum mengerti tentang cara-cara penularan HIV/AIDS dan 2 orang mengerti tentang tanda-tanda/ gejala AIDS. Alasan tersebut lahir karena belum adanya materi pelajaran yang khusus mempelajari tentang HIV/AIDS yang diberikan oleh guru atau tenaga pengajar. Berdasarkan latar belakang dan fenomena tersebut di atas, peneliti sangat tertarik untuk meneliti tentang “Gambaran Pengetahuan dan Sikap Remaja tentang HIV/AIDS di ZZZ” 1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, penulis mendeskripsikan data yang merupakan identifikasi masalah, yaitu: 1. Diketahui bahwa pada tahun 2008 terdapat 8 orang/kasus yang mengalami HIV/AIDS 2. Masih ditemukan 7 orang remaja khususnya siswa SMA/SMK atau sederajat yang mencoba berbagai narkotika seperti ganja dan dan minuman keras terbukti dari adanya laporan dari aparat desa/pamong mengenai kenakalan remaja yang sering dilakukan. Dari jumlah tersebut 2 orang diantaranya (28,57%) dikeluarkan sekolah sedangkan sisanya 5 orang (71,42%) diberi peringatan untuk tidak mengulanginya lagi. 3. Diketahui bahwa 6 dari 10 orang siswa ZZZ belum mengerti tentang cara-cara penularan HIV/AIDS dan 2 orang mengerti tentang tanda-tanda gejala HIV/AIDS. 1.3 Masalah dan Permasalahan 1.3.1 Masalah Masalah dalam penelitian ini adalah belum diketahuinya pengetahuan dan sikap remaja tentang HIV/AIDS di ZZZ. 1.3.2 Permasalahan 1.3.2.1 Bagaimanakah pengetahuan remaja di Di ZZZ? 1.3.2.2 Bagaimanakah sikap remaja di Di ZZZ? 1.4 Tujuan Penelitian 1.4.1 Tujuan Umum Penelitian ini untuk mengetahui “Pengetahuan dan Sikap remaja tentang HIV/AIDS di ZZZ” 1.4.2 Tujuan Khusus 1.4.2.1 Untuk mengetahui pengetahuan remaja di Di ZZZ. 1.4.2.2 Untuk mengetahui sikap remaja di Di ZZZ. 1.5 Manfaat Penelitian Diharapkan hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi: 1.5.1 Lahan Penelitian (Institusi Pendidikan) Diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk perencanaan kegiatan pendidikan sekolah menengah kejuruan dengan memasukan materi penyakit menular seksual khususnya HIV/AIDS dalam konteks intrakurikuler atau ekstra kurikuler yang akan memberi bekal pengetahuan dan wawasan yang lebih luas dan pembentukan sikap yang positif terhadap penyakit HIV/AIDS. 1.5.2 Siswa/Remaja Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat dijadikan masukan berupa saran dalam menambah pengetahuan remaja khususnya mengenai HIV/AIDS. 1.5.3 Petugas Kesehatan Diharapkan petugas kesehatan untuk dapat memberikan pendidikan kesehatan berupa penyuluhan kepada remaja khususnya siswa di ZZZ tentang pentingnya pengetahuan mengenai HIV/AIDS melalui UKS sebagai sarana kesehatan yang ada di sekolah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar